JAKARTA, investor.id – Kinerja PT Vale Indonesia Tbk (INCO) pada kuartal I-2025 cukup memuaskan dengan torehan laba bersih positif yang bersumber dari pendapatan yang terdiversifikasi. Di saat bersamaan, INCO juga terus fokus mempertahankan pengelolaan biaya dan bauran energi, sehingga mampu menekan beban produksi.
Hasilnya, anggota BUMN Holding Industri Pertambangan atau MIND ID tersebut mencatatkan laba bersih sebesar US$ 21,7 juta atau setara Rp 365 miliar (kurs Rp 16.760 per dollar USD) pada kuartal I-2025. Capaian tersebut melesat 251% daripada laba tahun pada periode sama tahun sebelumnya sebesar US$ 6,1 juta.
Pertumbuhan laba INCO cukup terbantu oleh penjualan saprolite untuk pertama kalinya sekitar 80.000 ton bijih kepada pembeli domestik. Ditambah, INCO juga mampu menekan biaya pendapatan (Cost of Revenue/CoR) sebesar 13% secara kuartalan dari US$ 213,8 juta pada kuartal IV-2024, menjadi US$ 187 juta pada kuartal I-2025, alias lebih rendah 11% secara tahunan.
Penurunan CoR ini mencerminkan keberhasilan dari peningkatan efisiensi melalui strategi pengadaan material berskala besar, kemudian menurunnya konsumsi bahan minyak bersulfur tinggi (HSFO), dan melemahnya harga komoditas batu bara. Pada kuartal tiga bulan pertama tahun ini, konsumsi dan harga HSFO & batu bara menurun, seiring dengan menurunnya volume produksi dan imbas masalah sistem elektroda.
“Kami memanfaatkan kesempatan ini untuk mempercepat jadwal pemeliharaan dari triwulan ketiga ke triwulan pertama 2025, sehingga kami dapat menyelaraskan operasi dengan lebih baik pada triwulan-triwulan selanjutnya. Meski, menghadapi tantangan, kami telah mengimplementasikan langkah-langkah strategis untuk menjaga produksi. Kami berkomitmen pada inovasi dan keunggulan serta menantikan peluang lebih baik di masa mendatang,” jelas Wakil Presiden Direktur dan Chief Operation and Infrastructure Officer INCO, Abu Ashar, dalam keterangan resminya, Selasa (29/4/2025).
Pada kuartal I-2025, harga HSFO dan batu bara masing-masing melemah sebesar 3% dan 11%. Sedangkan harga diesel naik moderat sebesar 11% dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencerminkan penerapan B40. Tak ayal, penurunan tersebut membuat komponen biaya INCO menjadi lebih terjaga, termasuk menekan biaya penjualan tunai per unit menjadi US$ 8.501 per ton pada kuartal I-2025.
Tanpa faktor tersebut bukan tidak mungkin berpotensi mengganggu kinerja INCO pada kuartal I-2025. Mengingat, realisasi pengiriman nikel matte perseroan mencapai 17.096 ton dan penjualan mencapai US$ 206,5 juta, alias lebih kecil ketimbang kuartal IV-2024 yang sebesar US$ 241,8 juta buntut dari pengiriman dan harga nikel rata-rata yang lebih rendah sebesar US$ 11.932 per ton, sehingga menggerus pendapatan perseroan menjadi US$ 206,5 juta dari sebelumnya US$ 229,9 juta.