JAKARTA, investor.id – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) berencana menambah lini usaha baru di bidang industri barang perhiasan, custom product dan barang lainnya dari logam mulia, untuk mengoptimalkan peluang dari segmen emas. Dari bisnis baru ini, perseroan menargetkan tambahan omzet penjualan hingga Rp 1 triliun dalam lima tahun ke depan.
Manajemen Antam mengungkapkan bahwa penambahan kegiatan usaha komoditas logam mulia ini, akan dapat meningkatkan kontribusi penjualan segmen emas dan pemurnian perseroan. “Selain itu, pengembangan kegiatan usaha komoditas tersebut diharapkan dapat mendukung pencapaian target kinerja perusahaan dalam jangka panjang,” ujar manajemen ANTM dalam keterbukaan informasi yang dikutip Jumat (9/5/2025).
Dalam penjelasannya, manajemen Antam menyebut bahwa sejalan dengan rencana jangka panjang perusahaan (RJPP) tahun 2025-2029, komoditas emas memiliki peluang optimasi penjualan emas dengan diversifikasi produk, pasar, dan ekspansi jaringan retail distribusi. Terkait hal itu, salah satu tema strategis perseroan dalam jangka panjang adalah penguatan fungsi penjualan emas, termasuk penetrasi ke lini pasar baru melalui kolaborasi, akuisisi, ataupun kegiatan lainnya.
“Untuk mendukung pencapaian target penjualan komoditas emas, perseroan melalui unit bisnis pengolahan dan pemurnian logam mulia (UBPP LM) memiliki strategi yang berfokus pada kualitas dan penyediaan produk, pengembangan produk dan keunggulan daya saing, serta pemasaran. Perseroan telah merencanakan berbagai program kerja, di antaranya pengembangan produk berupa produk perhiasan dan custom product termasuk produk industri untuk keperluan teknik dan atau laboratorium yang terbuat dari logam mulia,” papar manajemen Antam.
Guna mendukung kegiatan tersebut, Antam berencana melakukan penambahan kegiatan usaha dengan KBLI yang dapat mengakomodasi bisnis baru ini. Adapun KBLI yang dimaksud adalah 3211 (tentang industri perhiasan dan barang sejeni termasuk dengan turunannya) termasuk KBLI turunannya, yaitu KBLI No.32112 tentang industri barang perhiasan dari logam mulia untuk keperluan pribadi; KBLI No.32113 tentang industri barang perhiasan dari logam mulia bukan untuk keperluan pribadi; KBLI No.32114 tentang industri barang dari logam mulia untuk keperluan teknik dan/atau laboratorium; serta KBLI No.32119 tentang industri barang lainnya dari logam mulia.
Restu Pemegang Saham
Rencananya, perseroan akan meminta persetujuan penambahan lini bisnis baru ini kepada pemegang saham Antam pada pertengahan bulan depan. “Bahwa atas rencana penambahan kegiatan usaha KBLI No.32112, KBLI No.32113, KBLI No.32114, dan KBLI No.32219 akan dimohonkan persetujuan pada rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) yang diselenggarakan perseroan pada tanggal 12 Juni 2025,” ungkap manajemen Antam.
Sehubungan dengan penambahan lini usaha baru ini, Antam telah mempersiapkan tenaga ahli yang dapat mendukung penambahan kegiatan usaha, di mana tenaga kerja dalam rencana penambahan kegiatan usaha berasal dari tenaga ahli yang telah bekerja pada perusahaan. Manajemen Antam percaya, keberadaan bisnis baru ini akan memperbesar pundi-pundi keuntungan perseroan.
“Pada tahun 2025 berdasarkan RKAP perusahaan, perseroan memiliki target penjualan emas sebesar 40 ton, yang salah satunya diharapkan dapat ditopang oleh penjualan produk di luar produk standar logam mulia,” ujar manajemen Antam.
Langsung Cetak Laba
Dalam perhitungan perseroan, bisnis baru ini akan menambah penjualan sebesar Rp 571 miliar di tahun 2025, meningkat menjadi Rp 57,03 miliar di tahun depan, Rp 755,99 miliar pada 2027, Rp 869,98 miliar di 2028, dan menembus Rp 1 triliun pada 2029.
Lini bisnis baru ini juga diproyeksikan langsung mendulang profit hingga Rp 41,96 miliar di tahun perdana, yakni 2025. Laba bersih diyakini meningkat menjadi Rp 48,35 miliar pada tahun depan, dan berlanjut menjadi Rp 56,04 miliar di 2027, bertambah menjadi Rp 65,44 miliar pada 2028, dan naik ke Rp 78,28 miliar pada 2029.
Pada 2024, Antam berhasil mencatatkan pendapatan tertinggi sepanjang sejarah perusahaan, dengan membukukan penjualan sebesar Rp 69,19 triliun pada tahun 2024, naik 69% dibanding tahun sebelumnya Rp 41,05 triliun. Lonjakan pendapatan, ditopang dari penjualan emas yang melesat 120% menjadi Rp 57,56 triliun dari tahun sebelumnya Rp 26,12 triliun.
“Didukung oleh kenaikan harga emas dunia akibat faktor makroekonomi dan kondisi geopolitik, Antam membukukan pertumbuhan pendapatan yang signifikan di 2024 sebanyak 120% dengan nilai Rp 57,56 triliun jika dibandingkan dengan tahun 2023 yang sebesar Rp 26,12 triliun,” kata Corporate Secretary Antam Syarif Faisal Alkadrie dalam keterangan resminya, beberapa waktu yang lalu.
Penjualan produk emas tersebut mengontribusi hingga 83,19% dari total pendapatan Antam. Kontribusi pendapatan lainnya disumbang dari penjualan bijih nikel sebesar Rp 5,38 triliun, feronikel Rp 4,13 triliun, alumina Rp 1,49 triliun, bijih bauksit Rp 308,14 miliar, dan perak Rp 96,57 miliar.
Sejalan dengan peningkatan pendapatan, laba tahun berjalan perseroan tumbuh 25% pada 2024 menjadi Rp 3,85 triliun dibanding tahun sebelumnya Rp 3,08 triliun. EBITDA perusahaan juga meningkat 3% pada 2024 menjadi Rp 6,73 triliun dibanding 2023 yang sebesar Rp 6,55 triliun.